;
Tampilkan postingan dengan label Laporan Pendahuluan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Laporan Pendahuluan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 04 Oktober 2019

LAPORAN PENDAHULUAN : PENYAKIT CAMPAK

Jumat, 04 Oktober 2019

Penyakit kulit Cacar Air parah (varicella) di seluruh tubuh pria dewasa Asia.


A.    Campak
1.       Pengertian
Campak adalah penyakit akut yang disebabkan oleh virus campak yang sangat menular pada anak-anak, ditandai dengan panas, batuk, pilek, konjungtivitis dan ditemukan spesifik enantem (koplik”s spot), diikuti oleh erupsi makulopapular yang menyeluruh. Bahaya penyulit penyakit campak di kemudian hari adalah kurang gizi sebagai akibat diare berulang dan berkepanjangan pasca campak, sindrom subakutpanensifilitis (SSPE) pada anak > 10 tahun dan dan munculnya gejala penyakit tuberkulosis paru yang lebih parah pasca mengidap penyakit campak yang berat yang disertai pneumonia. (Ranuh, dkk 2008)
Campak atau yang sering kita ketahui dengan penyakit campak adalah penyakit yang sering menyerang anak-anak dan merupakan penyakit menular. Campak (rubeola, campak 9 hari) adalah suatu infeksi virus yang sangat menular, yang ditandai dengan demam, batuk, konjungtivitis (peradangan selaput ikat mata/konjungtiva) dan ruam kulit. Penularan infeksi terjadi karena menghirup percikan ludah penderita campak. Penderita bisa menularkan infeksi ini dalam waktu 2-4 hari sebelum timbulnya ruam kulit dan selama ruam kulit ada. (Muhammad, 2011)

2.      Manifestasi klinik penyakit campak
Terjadinya penyakit ini melalui tiga stadium yaitu 1) stadium kataris yang berlangsung 4-5 hari dengan gejala flu, batuk, demam, konjungtivitis, nyeri tenggorok, pembesaran kelenjar getah bening dan terjadi bercak koplik yaitu bercak putih kelabu yang dikelilingi daerah kemerahan. 2) stadium erupsi merupakan stadium campak yang ditandai dengan adanya titik merah pada palatum durum dan palatum mole, kemudian adanya bercak makulopapuler pada muka tubuh dan anggota gerak. 3) stadium konvalensi dimana gejala-gejala sudah mulai menghilang dan meninggalkan bekas seperti adanya hiperpigmentasi. (Alimul, 2006)
Gejala pertama biasanya timbul 10 hingga 12 hari masa inkubasi setelah tertular melalui udara atau droplet partikel ludah. Penularan melalui parenteral mempunyai masa inkubasi yang lebih singkat sekitar dua hingga empat hari. Penderita dengan imunokompromais masa inkubasinya lebih lama. Gejala prodromal yang sering terjadi demam, malaise, konjungtivitis, pilek, trakheobronkhitis (dengan manifestasi batuk) berlangsung selama dua hingga empat hari. Gejala-gejala ini mirip dengan infeksi saluran nafas bagian atas karena sebab lainnya. Demam yang timbul biasanya dalan empat hari dan dapat mencapai suhu 40,6°C (105 F). Pada hari pertama hingga hari kedua sebelum dan sesudah timbulnya rash didapatkan bercak koplik (koplik spots) di daerah mukosa pipi, gejala ini dikenal sebagai tanda patognomonik campak. Gambaran rash berbentuk erupsi makulopapular berlangsung selama 14 hari setelah terpapar dan menyebar mulai kepala (muka, dahi, rambut, telinga, dan leher bagian atas) meluas ke tubuh hingga ekstremitas selama tiga atau empat hari. Bercak kemerahan biasanya menyatu pada muka dan tubuh bagian atas bila ditekan berwarna kepucatan. Pada hari ketiga dan empat bercak berwarna kecoklatan dan tidak pucat bila ditekan. (Djauzi, 2007)
Demam timbul secara bertahap dan meningkat sampai hari kelima atau keenam pada puncak timbulnya ruam. Kadang-kadang kurva suhu menunjukkan gambaran bifasik, ruam awal pada 24-48 jam pertama diikuti dengan turunnya suhu tubuh sampai normal selama periode satu hari dan kemudian diikuti dengan dengan kenaikan suhu tubuh yang cepat mencapai 40°C pada waktu ruam sudah timbul di seluruh tubuh. Pada kasus yang tanpa komplikasi, suhu tubuh mengalami lisis dan kemudian turun mencapai suhu yang normal.  Gejala awal lainnya yang sering ditemukan adalah batuk, pilek, mata merah selanjutnya di cari gejala koplik’s spot. Dua hari sebelum ruam timbul, gejala koplik’s spot yang merupakan tanda pathognomonis dari penyakit campak, dapat dideteksi. Mula-mula hanya didapatkan dua atau tiga sampai enam bintik. Kombinasi dari noda putih keabuan dan warna merah muda disekitarnya merupakan tanda patognomonik absolut dari penyakit campak. Kadang-kadang noda putih keabuan sangat kecil dan sulit terlihat dan hanya dengan sinar yang langsung dan terang dapat terlihat. Timbulnya koplik’s spot hanya berlangsung sebentar, kurang lebih 12 jam, sehingga sukar terdeteksi dan biasanya luput pada waktu dilakukan pemeriksaan klinis. Ruam timbul pertama kali pada hari ketiga sampai keempat dari timbulnya demam. Ruam dimulai sebagai erupsi makulopapula eritematosa, dan mulai timbul pada bagian samping atas leher, daerah belakang telinga, perbatasan rambut di kepala dan meluas ke dahi. Kemudian menyebar ke bawah ke seluruh muka dan leher dalam waktu 24 jam jam. Seterusnya menyebar ke ekstremitas atas, dada, daerah perut dan punggung, mencapai kaki pada hari ketiga. Bagian yang pertama kena mengandung lebih banyak lesi daripada yang terkena kemudian. Setelah tiga atau empat hari, lesi teersebut berubah menjadi berwarna kecoklatan. Hal ini kemungkinan sebagai akibat dari perdarahan kapiler, dan tidak memucat dengan penekanan. Dengan menghilangnya ruam, timbul perubahan warna dari ruam , yaitu menjadi berwarna kehitaman atau lebih gelap. Dan kemudian disusul dengan timbulnya deskuamasi berupa sisik berwarna keputihan. (Ranuh dkk, 2008)
Menurut Muhammad (2011) Penyakit Campak itu mempunyai tanda atau gejala sebagai berikut :
a. Tahap Awal (hari 1 sampai hari ke-3)
1.      Biasanya didahului dengan panas, anak kelihatan lemah-lesu, sering disertai dengan batuk-pilek
2.      Mata memerah, keluar air mata (nrocos) kalau kena sinar yang terang terasa sakit
b. Tahap Lanjut (hari ke-4 sampai hari ke-5)
1.      Anak bertambah panas, batuk semakin ngikil dan ingusnya semakin bertambah banyak
2.      Keluar bintik-bintik merah. Kalau ibu-ibu sekalian mengamati, ternyata bintik –bintik merah tersebut muncul pertama kali dari belakang telinga kemudian ke dahi kemudian ke leher dan kemudian menjalar ke badan sampai ke ke dua kaki si anak
3.      Setelah bintik-bintik merah itu tersebar merata ke seluruh tubuh, baru panas badannya turun.
c. Tahap Penyembuhan (hari ke-6 sampai hari ke-9)
1.      Biasanya mulai hari ke-6 bintik-bintik merah akan berubah warnanya menjadi kehitaman dan akan mulai berangsur-angsur hilang.
2.      Pada saat itu juga, panas badan sudah mulai menurun, batuk dan pilek sudah mulai sembuh

3.      Mekanisme penyebaran penyakit campak
Menurut Pantirapih (2009) Penularan penyakit campak yaitu dari orang ke orang melalui percikan ludah dan transmisi melalui udara ( sampai 2 jam setelah penderita campak meninggalkan ruangan). Waktu Penularan: 4 hari sebelum dan 4 hari setelah ruam. Penularan maksimum pada 3-4 hari setelah ruam.
Virus campak ditularkan melalui udara atau droplet partikel ludah. Penularan melalui parenteral biasanya mempunyai masa inkubasi yang lebih singkat. (Djauzi, 2007)
Menurut Muhammad (2011) Campak adalah penyakit menular. Saat penderita campak batuk atau bersin maka penderita akan menyemprotkan titik-titik cairan ludah atau ingus yang banyak mengandung kuman Campak. Bayi atau anak yang berada di dekat penderita akan terkena percikan ludah atau ingus yang mengandung kuman Campak tersebut. Setelah itu kumannya masuk ke saluran nafas si-bayi atau si-anak yang ada di dekatnya tadi melalui hidung. Jadinya anak atau bayi tersebut ketularan penyakit campak.
 Virus campak ditularkan secara langsung dari droflet infeksi, dan agak jarang dengan penularan lewat udara (airborne spread). Virus campak sangat sensitif terhadap panas, sangat mudah rusak pada suhu 37°C. Toleransi terhadap perubahab pH baik sekali. Bersifat sensitif terhadap eter, cahaya, trysine. Virus mempunyai jangka waktu hidup yang pendek (short survival time) yaitu kurang dari dua jam. Apabila disimpan pada laboratorium, suhu penyimpanan yang baik adalah pada suhu -70°C. (Ranuh, dkk 2008)

4.       Komplikasi penyakit campak  
Menurut Pantirapih (2009) komplikasi penyakit campak yang sering terjadi yaitu Diare yang dapat diikuti dehidrasi, Radang paru-paru, Malnutrisi, radang telinga tengah, Sariawan, Komplikasi mata. Sedangkan komplikasi yang jarang terjadi yaitu Encephalitis / radang otak, Myocarditis / radang otot jantung,  Pneumonia / radang paru-paru, Subacute Sclerosing Pan Encephalitis (SSPE) : proses degeneratif susunan saraf pusat Disebabkan karena infeksi virus yang menetap.
Komplikasi campak di kemudian hari adalah kurang gizi sebagai akibat diare berulang dan berkepanjangan pasca campak, gejala penyakit tuberkulosis paru yang lebih parah pasca mengidap penyakit campak yang berat yang disertai pneumonia. (Ranuh, 2008)

5.      Pengobatan Dan Pencegahan
Pada umumnya penyakit Campak dapat sembuh dengan sempurna. Komplikasi terjadi bila kekebalan anak tidak bagus atau anak menderita kurang gizi. Pengobatan bersifat suportif, terdiri dari pemberian cairan yang cukup, suplemen nutrisi, obat anti-demam, obat batuk dan pilek. Bila tidak ada komplikasi dilakukan rawat jalan. Rawat Inap bila demam tinggi (>39ÂșC), dehidrasi, kejang, asupan makanan / minuman sulit, atau adanya komplikasi. Pemberian Vitamin A (100.000 IU untuk anak usia 6-12 bulan dan 200.000 IU untuk >12 bulan. Vitamin A ini berfungsi untuk perbaikan selaput lendir ( mata, mulut, hidung, usus) yang meradang. (Pantirapih, 2008)
Tidak ada pengobatan khusus untuk campak. Anak sebaiknya menjalani istirahat. Untuk menurunkan demam, diberikan asetaminofen atau ibuprofen. Jika terjadi infeksi bakteri, diberikan antibiotik. maka dari itu harus berjaga-jaga. Vaksin campak merupakan bagian dari imunisasi rutin pada anak-anak. Vaksin biasanya diberikan dalam bentuk kombinasi dengan gondongan dan campak Jerman (vaksin MMR/mumps, measles, rubella), disuntikkan pada otot paha atau lengan atas. (Wikipedia, 2012)
Pengobatan terhadap campak merupakan terapi supportif, karena penyakit ini bersifat sembuh sendiri. Pengobatan yang penting berupa penggantian cairan yang baik karena banyak cairan yang hilang karena demam, diare maupun muntah. Cairan infus juga penting apabila pasien sudah kehilangan cairan berat. Pasien juga harus dirawat di Rumah Sakit jikalau telah ditemui komplikasi dari campak. Suplemen vitamin A, terutama pada anak dan penderita yang kekurangan vitamin A, harus diberikan segera. Juga peran dari obat anti-virus dapat diberikan pada pasien campak berat. (Sabat, 2012)
Jika hanya mengandung campak, vaksin dibeirkan pada umur 9 bulan. Dalam bentuk MMR, dosis pertama diberikan pada usia 12-15 bulan, dosis kedua diberikan pada usia 4-6 tahun. selain itu penderita juga harus disarankan untuk istirahat minimal 10 hari dan makan makanan yang bergizi agar kekebalan tubuh meningkat. (Wikipedia, 2012)


FADHIL AKMAL - Oktober 04, 2019

LAPORAN PENDAHULUAN : KEHAMILAN RESIKO 4T (Terlalu Tua, Terlalu Muda, Terlalu Dekat Jarak Kelahiran, Terlalu Banyak Anak)

Hamil, Bersalin, Belum Lahir, Orang, Kehamilan, Cium


1.      Pengertian
Kehamilan adalah suatu keadaan untuk menjadi seorang bayi yang belum lahir menjadi mampu hidup diluar lingkungan tubuh ibunya yang aman, nyaman, dan terlindung, sedangkan anda dan pasangan anda menjadi orang tua. Keadaan ini berlangsung sembilan bulan dan memberikan diri anda kesempatan untuk belajar, menyesuaikan diri, merencanakan dan menyiapkan diri menjadi orang tua adalah perubahan besar dalam hidup, lebih dari pada pengalaman lainnya. (Keppler, 2008)
Kehamilan merupakan anugerah besar bagi setiap pasangan suami istri. Kehamilan merupakan bagian episode yang di tunggu-tunggu pasangan suami istri. Artinya, akan terasa kurang lengkap rangkaian cerita rumah tangga jika didalamnya tidak ada unsur tersebut. (Wahyudi, 2010)
Kehamilan adalah faktor penentu bagi keturunan yang akan dilahirkan. Masa-masa tersebut tidak lepas dari harus adanya usaha dari pasangan suami istri agar kehamilan sang istri dapat dilewati dengan selamat secara lahir batin, serta kelak jabang bayi yang dilahirkannya sesuai dengan harapan. . (Wahyudi, 2010)
Kehamilan adalah mengandung anak (gestrasi dari periode menstruasi sebelumnya sampai persalinan, yang normalnya adalah 40 minggu atau 280 hari), dan dibagi menjadi tiga periode, atau trimester, masing-masing berlangsung 3 bulan. Kehamilan 40 minggu dikatakan cukup bulan. (Brooker, 2008)
2.      Fsiologi Kehamilan
Kehamilan merupakan sebuah fase dalam periode kehidupan perempuan saat ia mengalami perubahan hormonal yang penting. Sebagian besar kehamilan terjadi pada perempuan yang usianya masih tergolong muda dan belum berpengalaman, maka tidak mengherankan jika mereka belum bisa memahami dan mengatur diri sendiri. Kehamilan memang banyak membawa perubahan dalam tubuh perempuan, mulai dari kondisi hormon sampai bentuk tubuh. Tentu hal ini bukan tanpa maksud. Seluruh perubahan yang terjadi selama masa hamil bertujuan untuk menjaga kehamilan itu sendiri hingga saat persalinan nanti. (Aprillia, 2010)
Menurut Hidayati 2009, proses kehamilan merupakan mata rantai yang berkesinambungan, terdiri atas:
1.    Ovulasi
a.    Ovulasi adalah proses pelepasan ovum yang dipengaruhi oleh sistem hormonal yang komplek. Ovum yang dibebaskan biasanya masuk kedalam tubuh. Bila ovum gagal bertemu sperma dalam 48 jam, ovum akan mati dan hancur.
b.    Selama masa subur, seorang wanita yang berusia 20-35 tahun, hanya akan menghasilkan 420 buah ovum yang dapat mengikuti proses pematangan dan terjadi ovulasi.
2.      Spermatozoa
a.    Proses pembentukan spermatozoa merupakan proses yang kompleks.
b.    Spermatozoa berasal dari sel primitif tubulus.
c.    Pertumbuhan spermatozoa di pengaruhi oleh mata rantai hormonal yang kompleks. Dimulai dari panca indra, hipotalamus, hipofisis, dan sel interstisial leyding, sehingga terbentuk spermatogonium yang mengalami proses mitosis.
d.   Tiga mililiter sperma yang dikeluarkan pada hubungan seks akan mengandung 40-60 juta spermatozoa setiap mililiternya.
e.    Spermatozoa yang masuk ke dalam alat genetalia wanita dapat hidup selama tiga hari. Bila ovulasi terjadi selama masa tersebut, maka akan terjadi konsepsi.
3.      Konsepsi
Konsepsi merupakan pertemuan inti ovum dengan spermatozoa, sehingga terbentuknya zigot.
4.      Nidasi
Dalam beberapa jam setelah pembuahan terjadi, mulailah pembelahan zigot. Zigot ini telah  mampu membelah diri,segera setelah pembelahan terjadi, maka pembelahan selanjutnya berjalan lancar. Bersamaan dengan pembelahan, hasil konsepsi berjalan menuju uterus, proses ini disebut stadia morula. Didalam ini morula terdapat ruangan yang berisi cairan disebut blastula. Blastula siap mengadakan nidasi di desidua. Tertanamnya blastula di endometrium mungkin terjadi perdarahan yang disebut tanda hartman.

3.   RESIKO 4T (Terlalu Tua, Terlalu Muda, Terlalu Dekat Jarak Kelahiran, Terlalu Banyak Anak)
a.       Resiko Terlalu Tua
Wanita yang hamil diatas usia tiga puluh lima tahun menghadapi resiko lebih besar untuk mengalami komplikasi medis dibanding wanita yang lebih muda. Ini memang benar, meskipun alasannya tidak jelas. Usia itu sendiri bukan penyakit, seperti diabetes atau penyakit jantung, tetapi dibanding wanita muda, wanita yang lebih tua tampaknya menghadapi kemungkinan yang lebih besar untuk mengalami masalah seperti ditemukan oleh para medis pada setiap wanita hamil, yaitu tekanan darah tinggi, diabetes gestasional, masalah pada pertumbuhan janin, atau kehamilan, melahirkan dan bayi. (Hidayati, 2009)
Sebagai gambaran tentang mengapa angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian anak (AKA) tinggi di Indonesia ada beberapa faktor yang dapat di sebut 4T, terlalu banyak anak terlalu, pendek jarak hamil dan bersalin, terlalu muda hamil dan melahirkan, dan terlalu tua untuk hamil kembali. Selain itu pengetahuan masyarakat tentang pengetahuan masih kurang, keadaan gizi masyarakat belum mantap (anemia hamil masih tinggi). (Manuaba, 2009)
Seringnya terjadi kematian pada saat persalinan, lebih banyak disebabkan karena tingginya pendarahan, selain itu, ada juga penyebab lain yang bisa menimbulkan kematian pada ibu hamil, yaitu adanya 4 terlalu (terlalu muda, terlalu tua, terlalu sering dan terlalu banyak). Kondisi ini kemudian didukung oleh adanya 3 terlambat (terlambat mengenali tanda-tanda, terlambat mencapai fasilitas kesehatan dan terlambat mendapat pertolongan). (Sudarman, 2008)
Wanita yang lebih tua juga cenderung mempunyai bayi yang mengalami kelainan genetik sepertisindroma down, yang menyebabkan keabnormalan fisik dan keterbelakangan mental. Kondisi ini dapat dideteksi dengan amniosentesis atau sampel vilus korionik. Wanita diatas tiga puluh lima tahun umunya mendapat salah satu pemeriksaan ini pada awal kehamilan. Jika ditemukan adanya sindroma down atau kelainan genetik lainnya, anda akan diminta memilih untuk menjalani aborsi atau meniapkan diri untuk hidup bersama dengan seorang anak yang memiliki kebutuhan khusus. (Keppler, 2008)
b.       Resiko Terlalu Muda
Penelitian memperlihatkan bahwa kehamilan di usia muda (usia kurang dari 20 tahun) sering kali berkaitan dengan munculnya kanker rahim. Hal ini berkaitan erat dengan belum sempurnanya perkembangan dinding uterus. Kehamilan yang tidak diinginkan (KTD) adalah suatu kehamilan yang karena suatu sebab maka keberadaannya tidak diinginkan oleh salah satu atau kedua calan orang tua bayi tersebut. (Efendi, 2009)
Statistik menunjukkan bahwa usia yang paling menguntungkan bagi wanita untuk hamil adalah antara dua puluh sampai pertengahan tiga puluh. Selama periode ini, masalah yang muncul lebih sedikit dibandingkan jika wanita hamil di usia belasan, akhir tiga puluh, atau empat puluh. (Keppler, 2008)
Meskipun demikian, tingkat kelahiran untuk anak pertama di usia tiga puluh dan empat puluh saat ini tampaknya lebih tinggi dari sebelumnya. Meskipun wanita usia belasan maupun tiga puluhan menghadapi resiko kehamilan yang lebih besar, seorang wanita hamil yang sehat terlepas dari usianya, kemungkinan besar akan melahirkan bayi yang sehat. (Keppler, 2008)
c.        Resiko Terlalu Dekat Jarak Kelahiran
Untuk menjaga kesehatan ibu dan anak sebaiknya jarak antara kehamilan tidak kurang dari 2 tahun. Karena kalau jaraknya terlalu dekat dapat mengganggu tumbuh kembang anak baik fisik maupun mentalnya. Hal ini disebabkan karena ASI terpaksa dihentikan, ibu tidak punya banyak waktu untuk menyiapkan makanan anak, juga berkurangnya perhatian dan kasih sayang. Ibu memerlukan waktu sekitar 2 tahun untuk memulihkan kesehatannya sebelum hamil lagi. Kalau ibu hamil terlalu cepat maka sering melahirkan BBLR. (Hendrawan, 2009)
d.       Resiko Terlalu Banyak Anak
Dengan keluarga berencana (KB) maka sebuah keluarga dapat merencanakan kapan mulai punya anak, berapa jumlah anak yang dinginkan, berapa tahun jarak antara anak satu dengan yang lain dan kapan berhenti tidak hamil lagi. Pada masyarakat yang mempunyai kebiasaan kawin muda, dianjurkan untuk menunda kehamilannya dulu sampai paling sedikit umur 18 tahun. Karena kalau hamil kurang dari 18 tahun sering melahirkan BBLR yang angka kesakitan dan kematiannya tinggi, di samping itu resiko terhadap ibunya juga tinggi. Demikian pula dianjurkan untuk tidak hamil sesudah umur 35 tahun, karena resiko terhadap bayi maupun ibunya meningkat lagi. (Hendrawan, 2009)
Mempunyai anak lebih dari 4 orang juga akan menambah resiko terhadap ibu dan bayinya. Lebih-lebih kalau jarak antara kehamilan kurang dari 2 tahun, maka ibu akan lemah akibat dari seringnya hamil, melahirkan, menyusui dan merawat anak-anaknya. Sehingga sering mengakibatkan berbagai masalah seperti ibu yang menderita anemia, kurang gizi, dan bahkan sering terjadi pendarahan setelah melahirkan yang membahayakan nyawa ibunya. Resiko melahirkan bayi cacat dan BBLR juga meningkat setelah 4 kali kehamilan dan setelah usia ibu 35 tahun. (Hendrawan, 2009)



FADHIL AKMAL - Oktober 04, 2019

LAPORAN PENDAHULUAN : PERSONAL HIGIENE


Menyikat Gigi, Gigi, Zahnarztpraxis, Obati Gigi
1.      Personal Higiene
a.      Pengertian Personal Hygiene
Personal hygiene berasal dari bahasa Yunani yaitu personal yang artinya perorangan dan hygiene berarti sehat. Kebersihan seseorang adalah suatu tindakan untuk memelihara kebersihan dan kesehatan seseorang untuk kesejahteraan fisik dan psikis (Tarwoto, 2006).
Menurut Kamus Keperawatan Personal Higiene adalah hygiene perorangan yang mencakup semua aktifitas yang bertujuan untuk mencapai kebersihan tubuh, meliputi membasuh, mandi, merawat rambut, kuku, gigi dan gusi disamping membersihkan daerah genetal. (Hinchliff, 2000).
Perawatan diri atau kebersihan diri (personal hygiene) merupakan perawatan diri sendiri yang dilakukan untuk mempertahankan kesehatan baik secara fisik maupun psikologis. Pemenuhan perawatan diri ini mempengaruhi berbagai faktor yaitu budaya, nilai sosial, pengetahuan tentang perawatan diri serta persepsi terhadap perawatan diri. (Hidayat, 2008).
Menurut Asmadi (2008) perawatan diri atau kebersihan diri merupakan suatu konstribusi berkelanjutan bagi ekstensi, kesehatan dan kesejahteraan seseorang. Jika dilakukan secara efektif upaya perawatan diri dapat memberikan konstribusi bagi integritas struktral fungsi dan perkembangan manusia.
Personal hygiene mencakup semua aktifitas yang memiliki tujuan  kebersihan dan penampilan tubuh, aktifitas tersebut meliputi mencuci, mandi, bercukur bagi pria, perawatan mata dan alat bantu penglihatan, perawatan telinga, rambut, kuku, gigi dan gusi. (Brooker, 2009).
b.      Tujuan Personal Hygiene
Tujuan dari personal hygiene adalah meningkatkan derajat kesehatan seseorang, memelihara kebersihan diri seseorang, memperbaiki personal hygiene yang kurang, mencegah penyakit, menciptakan keindahan dan meningkatkan rasa percaya diri. (Tarwoto, 2006)
Kebutuhan kebersihan diri adalah keharusan perawatan diri universal dan terkait perkembangan dan kemungkinan keharusan perawatan diri terkait penyimpangan kesehatan yang diperlukan untuk hidup. (Christensen, 2009)
Pemenuhan kebutuhan kebersihan diri merupakan bagian dari kebutuhan dasar manusia. Ini berarti setiap manusia membutuhkan kenyamanan pada diri sendiri dan lingkungan. Kebutuhan kebersihan diri sangat penting karena berdampak pada kesehatan seseorang. (Hidayat dkk, 2005).
c.       Hal-Hal yang Mencakup Personal Hygiene
1)      Mandi
Menurut Darsono (2008) Mandi atau membersihkan diri merupakan keharusan, dengan mandi badan akan bersih dari kotoran, keringat atau bau yang menempel dibadan.
Mandi merupakan bagian yang penting dalam menjaga kebersihan diri. Mandi dapat menghilangkan bau, menghilangkan kotoran, merangsang peredaran darah, memberikan kesegaran pada tubuh. Seharusnya mandi dilakukan dua kali sehari. Alasan utama ialah agar tubuh sehat dan segar bugar. Mandi membuat tubuh segar dengan membersihkan seluruh tubuh. Urutannya adalah sebagai berikut (Irianto, 2007):
a)          Seluruh tubuh  cuci dengan sabun mandi. Oleh buih sabun, semua kotoran dan kuman yang melekat mengotori kulit lepas dari permukaan kulit, kemudian tubuh  siram bersih-bersih.
b)          Seluruh tubuh digosok hingga keluar semua kotoran atau daki.  keluarkan daki dari wajah, kaki, dan lipatan- lipatan. Gosok terusdengan tangan, kemudian seluruh tubuh disiram sampai bersih dari kaki.
2)      Perawatan Mulut Dan Gigi
Kebersihan mulut dan gigi terkait dengan penampilan. Bila gigi dan mulut bersih, terawatt dan sehat kita tidak akan canggung jika berhadapan dengan orang lain. Kesan ramah dan senyum alami juga akan terlihat dari gigi dan mulut yang bersih. (Darsono, 2008)
Mulut yang bersih adalah penting kepada kesejahteraan fisikal dan mental seseorang. Perawatan pada mulut juga disebut oral hygiene. Melalui perawatan pada rongga mulut, sisa-sisa makanan yang terdapat di mulut dapat dibersihkan. Selain itu, sirkulasi pada gusi juga dapat distimulasi dan dapat mencegah halitosis. Maka adalah penting untuk menggosok gigi sekurang-kurangnya 2 kali sehari dan sangatlah dianjurkan untuk berkumur-kumur atau menggosok gigi setiap kali selepas  makan (Sharma, 2007).
Kesehatan gigi dan rongga mulut bukan sekedar menyangkut kesehatan di rongga mulut saja tetapi juga mencerminkan kesehatan seluruh tubuh. Orang yang giginya tidak sehat, pasti kesehatan dirinya mundur. Sebaliknya yang giginya sehat dan terawat baik, seluruh dirinya sehat dan segar bugar. Menggosok gigi sebaiknya dilakukan setiap selesai makan. Sikat gigi jangan ditekan keras-keras pada gigi kemudian digosokkan cepat-cepat. Tujuan menggosok gigi ialah membersihkan gigi dan seluruh rongga mulut. Dibersihkan dari sisa-sisa makanan, agar tidak ada sesuatu yang membusuk dan menjadi sarang bakteri (Irianto, 2007).
3)      Perawatan rambut
Menurut Hidayat (2008) rambut merupakan bagian dari tubuh yang memiliki fungsi proteksi dan pengatur suhu. Indikasi perubahan status kesehatan diri juga dapat dilihat dari rambut mudah rontok, sebagai akibat gizi kurang. Secara anatomis rambut terdirid ari atas bagian batang, akar rambut, sarung akar, follikel rambut serta kelenjar sabeasa. Berbagai masalah pada rabut yang tidak bersih yaitu kutu, ketombe, botak, serta radang pada kulit rambut.
Selain bersih, rambut juga harus rapi setiap saat. Rambut juga harus dirawat dengan cara dicukur, disampoo dan disisir. Kebersihan rambut sangat mempengaruhi penampilan seseorang didepan orang lain. (Darsono, 2008)
Menyikat rambut bukan hanya dapat menjadikan penampilan diri  lebih menarik, bahkan turut dapat membersihkan rambut  dari pada kekotoran dan debu, mencegah kekusutan rambut, dan dapat meransang sirkulasi kulit kepala. Rambut harus dirawat supaya tetap bersih dan rapi. Rambut itu berlemak dan kotoran debu mudah melekat pada rambut. Lemak dan kotoran pada rambut membusuk dalam waktu 24 jam. Oleh karena itu,  harus mencuci rambut dan kulit kepala atau keramas setiap kali  mandi. Dengan begitu, hilanglah semua kotoran yang melekat dan pori-pori kulit kepala akan terbuka, kemudian dikeringkan supaya rambut terasa segar dan sehat kembali (Irianto, 2007).
4)      Perawatan Kuku Kaki Dan Tangan.
Menjaga kebersihan kuku merupakan suatu aspek penting dalam mempertahankan perawatan diri karena berbagai kuman dapat masuk dalam tubuh melalui kuku. Dengan demikian kuku seharusnya tetap dalam keadaan bersih dan sehat. (Hidayat, 2008)
Menggunting dan membersihkan kuku dan kaki secara teratur dapat mencegah masalah kuku.Waktu yang paling sesuai untuk melakukan perawatan kuku dan kaki adalah selepas mandi. Kuku tangan haruslah dibersihkan setiap hari. Pada lipatan antara kuku dan kulit serta di bawah ujung kuku terdapat kotoran yang menyangkut. Hal ini sudah tentu akan menyebabkan banyak kuman dan telur cacing parasit yang terdapat di kuku. Maka, ujung kuku hendaknya dipotong pendek, lalu dibersihkan. Hal ini tidak berbeda dengan kaki.  melangkahkan kaki ke mana-mana. Banyak kotoran yang ikut dengan kaki. Oleh karena itu,  hendaklah selalu mencuci kaki  bersih-bersih, terutamanya sebelum tidur. Kuku kaki juga seharusnya dipotong pendek dan dibersihkan secara teratur (Irianto, 2007).
5)      Cuci Tangan
Tangan adalah anggota tubuh yang paling banyak berhubungan dengan apa saja.  menggunakan tangan untuk menjamah makanan setiap hari. Selain itu, sehabis memegang sesuatu yang kotor atau mengandung kuman penyakit, selalunya tangan  akan lansung menyentuh mata, hidung, mulut, makanan serta minuman. Hal ini dapat menyebabkan pemindahan sesuatu yang dapat berupa penyebab terganggunya kesehatan karena tangan merupakan perantara penularan kuman (Irianto, 2007).
Cuci tangan merupakan prosedur terpenting dalam pengendalian infeksi. Hygiene tangan dapat dicapai dengan mencuci tangan menggunakan sabun cair atau sabun deterjen antiseptic dan air, atau dengan menggunakan pembasuh tangan berbahan dasar alcohol. (Brooker, 2009)
Selain itu, tangan juga adalah salah satu penghantar utama masuknya kuman penyakit ke tubuh manusia. Cuci tangan dengan sabun dapat menghambat penyakit ke tubuh manusia melalui perantara tangan. Tangan manusia yang kotor karena menyentuh feses mengandung kurang lebih 10 juta virus dan 1 juta bakteri. Kuman penyakit seperti virus dan bakteri tidak dapat terlihat dengan mata telanjang sehingga sering diabaikan dan mudah masuk ke tubuh manusia. Hampir semua orang mengerti pentingnya cuci tangan pakai sabun namun tidak membiasakan diri untuk melakukannya dengan benar pada saat yang penting. (Irianto, 2007)


FADHIL AKMAL - Oktober 04, 2019
loading...